Monday, December 17

Dinamika Kepribadian


Kegiatan psikologik membutuhkan enerji, yaitu enerji psikis yang merupakan enerji yang diubah bentuk dari enerji fisik melalui Id beserta insting-instingnya. Berikut adalah faktor-faktor penentu dalam dinamika kepribadian menurut Sigmund Freud:
1.         Insting
Perwujudan psikologik dari kebutuhan tubuh yang menuntut kepuasan adalah pengertian dari insting. Secara kuantitatif insting merupakan enerji psikik yang menggerakkan proses kepribadian. Enerji ini dapat ditelusuri kejelasannya melalui: (1) sumber (source), merupakan kondisi jasmaniah atau kebutuhan; (2) tujuan (aim), yaitu usaha untuk mengembalikan ke keadaan tenang sebelum munculnya insting, bersifat konstan, regresif, dan konservatif; (3) objek (object), adalah sesuatu yang menjembatani antara kebutuhan yang timbul dengan pemenuhannya; dan (4) daya dorong (impetus), yakni kekuatan/intensitas keinginan berbeda-beda setiap waktu.
Ada dua jenis insting yaitu insting hidup (eros) dan insting mati (tanatos). Insting jenis pertama berhubungan dengan kebutuhan untuk mempertahankan kehidupan dan seksualitas, sedangkan insting kedua adalah dorongan untuk menghancurkan yang ada pada setiap tubuh manusia dan dinyatakan dalam perkelahian, pembunuhan, sadisme, perang, dan lain sebagainya.
2.         Distribusi dan Pemakaian Energi
Ilmu Fisika sangat berhasil dalam abad sembilan belas, dan Freud sangat dipengaruhi  oleh ahli fisika Jerman, Hermann von Helmholtz, yang berpendapat bahwa peristiwa fisiologis juga dapat dijelaskan oleh prinsip yang sama. Freud sangat terkesan dengan prinsip kekekalan enerji yang menyatakan bahwa enerji dapat diubah namun tak dapat diciptakan ataupun dihilangkan. Selain itu Freud menyatakan bahwa manusia juga merupakan sistem enerji tertutup. Dalam tiap diri individu terdapat enerji psikis yang disebut Libido (nafsu).
Karena jumlah enerji psikis yang terbatas dan ketiga unsur tersebut  mengalami persaingan demi mendapatkan enerji tersebut, maka ketika ada satu unsur yang mendapatkan enerji lebih banyak maka akan memperlemah dua unsur kepribadian yang lain kecuali jika ada enerji baru yang ditambahkan atau dipindahkan ke sistem tersebut.
Penyerahan enerji dari Id ke Ego dan Superego akan memicu hubungan yang rumit antara kekuatan pendorong (kateksis) dan kekuatan penahan (antikateksis) yang akan menentukan dinamika kepribadian seseorang. Di sinilah peran Ego dimainkan, dengan enerji yang dimilikinya ia harus mengatur kepribadian secara bijaksana, melakukan pengecekkan kepada Id dan Superego serta menangani dunia eksternal. Individu memiliki peran Ego yang dominan selaras adalah salah satu tanda jiwa yang sehat.
Namun jika Ego lemah dalam mengatur konflik kejiwaan individu tersebut, ia akan menimbulkan perilaku yang abdormal. Contohnya saat Id terlalu mendominasi kepribadian individu akan menyebabkan individu tersebut terlalu cepat bertindak tanpa berpikir dan semaunya sendiri. Sama halnya jika yang terjadi adalah kekuatan Superego yang terlalu kuat akan menjadikan individu tersebut terbelenggu oleh aturan moral dan karena kekuatan ego ideal yang menerapkan standar yang tinggi, individu akan merasa terhambat dan gagal – hingga depresi.

3.         Kecemasan
Kecemasan atau anxiety adalah perasaan yang tergeneralisasi atas ketakutan dan kekhawatiran. Kecemasan juga merupakan suatu peringatan akan terjadinya suatu bahaya atau pengalaman psikologis yang penuh rasa nyeri. Konsep ini merupakan titik pandangan psikoanalisis yang utama. Terdapat 3 jenis kecemasan yaitu:
a.    Kecemasan realitas (reality anxiety), cemas yang didasarkan adanya objek atau ancaman nyata yang menakutkan dari dunia luar. Kecemasan ini adalah tonggak awal lahirnya kecemasan neurotic dan kecemasan moral.
b.    Kecemasan neurotis (neurotic anxiety), cemas yang timbul dari ketakutan memperoleh hukuman yang diyakini jika pemuasan Id dilakukan dengan cara sendiri, padahal hukuman tersebut belum tentu diterimanya. Jika mengalami kecemasan ini maka akan menimbulkan distress, panik, hingga tak dapat membedakan antara khayalan dan realita.
c.    Kecemasan moral (moral anxiety), cemas yang dirasakan saat tindakan-tindakan baik yang nyata maupun yang dipikirkan bertentangan dengan Superego sehingga menimbulkan perasaan bersalah. Pada kecemasan ini individu masih mampu berpikir realistik karena pengaruh besar Superego.
4.         Mekanisme Pertahanan
Seringkali Ego tak dapat mengambil tindakan penyelesaian yang rasional dan memadai, sehingga individu menciptakan penggantinya berupa tindakan irrasional yang disebut mekanisme pertahanan diri (ego defense mechanism). Tindakan ini hanya tindakan palivatif saja (tidak tuntas, tidak sesuai kenyataan). Hal yang paling penting dalam mekanisme pertahanan diri adalah konsep ketidaksadaran, karena itu proses penanggulangannya tidak rasional.
Menurut Freud, Ego merespon impuls Id dengan dua cara:
a.    Membentengi impuls sehingga tidak muncul sebagai tigkah laku sadar.
b.    Membelokkan impuls itu sehingga intensitas aslinya dapat dilemahkan atau diubah.
Freud mempunyai tujuh mekanisme pertahanan yang menurutnya individu akan memakai lebih dari satu mekanisme untuk melindungi dirinya dari kecemasan. Tujuh mekanisme tersebut yakni:
a.    Identification, meniru atau mengidentifikasikan diri dengan orang yang dianggap lebih berhasi memuaskan keinginan Id.
b.    Displacement, proses mengganti objek kateksis demi meredakan teganagn melalui proses kompromi antara tuntutan insting Id dan realitas Ego.
c.    Repression, proses Ego memakai kekuatan antikateksis untuk menekan segala sesuatu (ide, insting, ingatan, pikiran) yang dapat menimbulkan kecemasan keluar dari kesadaran.
d.   Fixation, terhentinya perkembangan normal pada tahap perkembangan tertentu karena perkembangan selanjutnya terlalu sukar sehingga menimbulkan frustasi dan kecemasan yang sangat kuat.
e.    Regression, mundurnya individu ke tahap perkembangan terdahulu – yang membuat dia merasa puas.
f.     Reaction formation, tindakan difensif dengan cara mengganti impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan impuls atau perasaan lawan/kebalikannya dalam kesadaran.
g.    Projection, mekanisme mengubah kecemasan neurotik menjadi kecemasan realistik, dengan cara melemparkan impuls-impuls internal yang mengancam dipindahkan ke objek di luar, sehingga seolah-olah ancaman itu terproyeksi dari objek eksternal kepda diri orang iu sendiri.
Semua mekanisme tersebut masing-masing mempunyai kesamaan ciri yaitu:
a.    Beroperasi pada tingkat tak sadar
b.    Bersifat selalu menolak, memalsu, atau memutarbalikkan kenyataan
c.    Mengubah persepnya nyata seseorang, sehingga kecemasan menjadi berkurang

No comments:

Post a Comment